Friday, May 7, 2010

Wajah-wajah Inosen dalam Kardus

Kamis kemarin, saya jalan-jalan ke BIP bareng si pacar. Seperti biasa, setiap kali ke BIP, saya selalu menyempatkan diri untuk melihat hewan-hewan di “pet shop” dadakan di depan mal mini tersebut. Ada yang tidak biasa malam itu. Di sana ada hewan bermata besar dan berambut tebal dengan motifnya yang cantik. Saya melihat kukang! 
Saat itu saya juga melihat seorang pria paruh baya mengacungkan sebuah kamera digital dengan bangganya. Satu-dua kali jepret, dan dia mendapat foto kukang yang sedang memeluk lemas tangan si penjual. Beberapa detik kemudian kamera pun berganti arah, merekam gambar pria tersebut dengan kukang bertengger di pundaknya.
Malam itu, si kukang bak primadona. Sementara 3 ekor teman seperjuangannya mungkin sedang bingung harus berbuat apa karena terjebak di dalam kardus yang begitu sempit. Sungguh pemandangan yang sangat tidak menyenangkan.
Ya, kukang memang boleh diperjualbelikan, tapi ada syaratnya yaitu merupakan hasil biakan penangkaran, bukan hewan liar yang diburu. Kalaupun itu adalah hewan hasil tangkaran, saya pikir, hanya makhluk kejam saja yang tega menempatkan 3 ekor kukang sekaligus dalam satu kardus kecil. Itu sama saja dengan menempatkan 3 manusia dalam sebuah kamar mandi berukuran 1x1 meter persegi.
Untuk mengetahui “keabsahan” praktik penjualan kukang-kukang ini, saya memberanikan diri mengeluarkan ponsel dan bertindak seolah-olah ingin mengambil foto kukang-kukang itu. Bagaikan sudah terlatih untuk menghadapi worst case scenario, si penjual langsung memasukkan kukang yang ada di tangannya ke dalam kardus, menyatukannya dengan 3 ekor lainnya, dan langsung menutup kardus tersebut. Untung saja saya sempat mengabadikan momen tersebut—walaupun tidak begitu bagus.
Empat ekor kukang dalam sebuah kardus. Can you imagine that?
Saya jadi penasaran. Kenapa si penjual itu begitu reaktif? Jika melakukan hal yang benar, kenapa dia begitu kebakaran jenggot? Kenapa dia tidak mengeluarkan surat ijin penjualan kukang saja pada saya dan mengatakan bahwa kukang-kukang ini boleh dijual? Kenapa dia tidak marahi saja saya dan bilang kalau barang dagangannya tidak boleh difoto?
Saya yakin itu adalah kukang-kukang yang diburu dari alam liar. Saya yakin itu ilegal.
Karena gusar, saya langsung menggandeng tangan si pacar untuk masuk ke dalam mal. Saya berniat memfoto kembali kegiatan si penjual itu saat keluar dari mal nanti. Tapi saya mengurungkannya, setelah si pacar mengingatkan saya akan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi, termasuk kemungkinan dirampasnya ponsel saya. Dia bilang, seseorang yang berani menjual “barang haram” di pinggir jalan pasti sudah memiliki back up yang cukup kompeten—preman atau mungkin polisi. Entahlah, benar atau tidak—tentang preman atau polisi—tapi saya mengikuti sarannya.
Dulu, saat masih SMA—tahun 2002, saat pertama kali saya belajar tentang primata di Konus (Konservasi Alam Nusantara)—saya pikir kasus penjualan hewan-hewan langka di Indonesia hanyalah masalah tahu dan tidak tahu. Yap, sesederhana itu. Saya pikir mereka melakukannya karena mereka tidak tahu seberapa penting keberadaan hewan-hewan tersebut di alam. Tapi setelah kejadian ini…. Ah ternyata! Jika mereka begitu reaktif, berarti mereka tahu keadaan yang sebenarnya! Dan mereka melakukannya demi perut mereka!
Saya tahu bahwa untuk urusan ini—apalagi yang berhubungan dengan perut—kita tidak mungkin bergantung pada hukum di negeri ini. Saya percaya bahwa satu-satunya pihak yang bisa mengubah kondisi ini adalah kita, orang-orang yang potensial menjadi konsumen apapun, termasuk hewan-hewan langka untuk dinikmati keindahannya. Mungkin banyak di antara teman-teman yang sudah paham tentang dampak buruk memelihara primata di rumah, baik dari aspek kesehatan maupun dari aspek ekologis. Tapi jika teman-teman masih merasa kurang jelas tentang hal itu, teman-teman bisa mempelajarinya di sini.
Jika teman-teman mengalami apa yang saya alami, atau mendapati seseorang memelihara hewan langka tanpa ijin, teman-teman bisa melaporkannya ke polisi, BKSDA, atau LSM-LSM yang bergerak di bidang hidupan satwa liar. Saya yakin teman-teman pasti tahu bahwa hewan-hewan langka tersebut tidak boleh diperjualbelikan bukan tanpa alasan. Saya yakin bahwa mereka akan jauh lebih bahagia menjadi hewan liar di alam, dibanding menjadi hewan peliharaan yang dikurung dalam sangkar emas. Ayo, selamatkan jiwa kita dengan menyelamatkan jiwa mereka!

No comments:

Post a Comment